Minggu, 16 Januari 2011

Troy, Legenda Helen dan Kuda Troya



KETIKA CINTA, KEKUASAAN, DAN KEPAHLAWANAN BERTEMU
“Hectoooor …. !” raungan Achilles menggema di benteng kokoh kota Troy, memantul berkumandang ke segenap sudut kota. Achilles, si pemilik suara halilintar itu, berdiri tegak di depan pintu gerbang raksasa benteng. Tubuhnya yang kekar tertutup baju zirah dan kepalanya terlindung dibalik topi besi. Di tengah keluasan hamparan pasir kosong di luar benteng kota Troy, sosoknya tegak bagai batu karang.
Hector, putra sulung Raja Troy, Priam, juga sudah siap dalam baju perangnya yang terbuat dari besi. Ia tahu, Achilles akan datang untuk membunuhnya. Pada perang melawan tentara Yunani yang menyerang Troy, Hector membunuh sepupu Achilles, dan siapa pun tahu bahwa Achilles akan menuntut balas atas kematian sepupu yang sangat dicintainya itu. Semua orang tahu Hector akan mati di tangan Achilles, sebab tidak ada seorangpun yang mampu melawan Achilles, sang singa Yunani. Sebenarnya Hector bisa saja tetap bersembunyi di dalam benteng kota Troy yang sangat kuat, Achilles tidak akan bisa masuk, tetapi sebagai seorang putra raja yang berjiwa kesatria, Hector pantang bersembunyi dari musuh yang datang menantangnya.
Hector berlutut dan mencium tangan ayahnya. Raja Priam memeluk putra tercintanya itu, mencium keningnya dengan perasaan kelu. Hatinya pedih melepas putranya menantang maut, tetapi ia bangga memiliki putra yang berjiwa kesatria dan gagah berani menjemput kematian demi membela harga diri bangsanya.
“Tidak ada seorang ayah pun pernah memiliki akan lelaki sebaik engkau” kata Raja Priam dengan mata berkaca-kaca.

IMG_1352
Hector berpamitan kepada isteri dan anak lelakinya sebelum keluar dari benteng Troy untuk melawan Achilles


Setelah mencium isteri dan anak lelakinya serta memeluk Paris, adiknya, Hector melangkah ke pintu gerbang. Sepuluh orang perajurit mengangkat palang pintu gerbang, dan membuka pintu gerbang raksasa yang maha berat itu. Hector melangkah perlahan, mantap dan penuh keyakinan, menyongsong Sang Penantang. Achilles.


Sebagai sebuah film perang, Troy menggambarkan suasana perang dengan luar biasa. Ribuan tentara dari kedua belah pihak (Troy dan Yunani) yang berlari, menyerbu dengan perisai dan pedang di tangan, tampak seperti laron — anai-anai — yang ditumpahkan dari dua arah berlawanan di permukaan sebuah meja besar, dan bertemu ditengah-tengah dalam perang brubuh. Ratusan tentara dari kedua belah pihak yang berada di baris terdepan seketika mati atau sekarat begitu tertebas pedang lawan. Kematian datang dalam sekejap, tanpa menunggu mereka berkedip. Mayat tumpang tindih, terinjak-injak tentara di belakang yang merangsek maju. Perang yang sungguh mengerikan.
Perang Troya dipicu oleh larinya Helen, isteri Menelaus, ke Troy. Helen terlibat cinta dengan Paris, anak Raja Priam. Adapun Menelaus adalah adik Agamemnon, raja Yunani. Kemarahan Menelaus karena isterinya direbut Paris dimanfaatkan oleh Agamemnon sebagai alasan untuk menyerbu Troy. Sebenarnya Agamemnon memang sudah lama ingin menguasai Troy. Achilles, sepupu Agamemnon, ikut serta di antara pasukan Yunani. Ia ikut berperang untuk membela negaranya, meskipun sebenarnya ia selalu berseberangan dengan Agamemnon yang tamak.
Tentara Troy dan Yunani bertemu di medan perang
Kembali ke pertarungan antara Hector dengan Achilles ……

Setelah melalui pertempuran seru, terbukti bahwa Hector memang bukan lawan yang seimbang bagi Achilles. Hector tersungkur ke pasir setelah tubuhnya ditembus pedang Achilles. Raja Priam yang menyaksikan pertarungan itu dari atas benteng limbung melihat putranya tewas. Dendam Achilles rupanya belum lunas hanya dengan membunuh Hector. Ia mengikat kedua kaki Hector, mencencangnya ke bagian belakang kereta kudanya, dan menyeret mayat Hector ke basis pasukan Yunani yang berkemah di pantai Aegea. Betapa tersayat hati Raja Priam melihat putra kesayangannya diseret seperti binatang buruan, tanpa ia bisa berbuat apa-apa.

IMG_1362
Hector tersungkur ke pasir setelah dadanya tertusuk oleh pedang Achilles

Malam hari, Achilles berada sendirian di tendanya. Mendadak seseorang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan kain lebar menyeruak masuk. Orang itu, yang ternyata adalah Raja Priam, menyelusup sendirian ke tenda Achilles tanpa mengenakan sepotongpun atribut kerajaan. Ia langsung berlutut dan mencium kedua tangan Achilles. Achilles sangat terkejut ketika Raja Priam memperkenalkan dirinya.
“Kau sangat pemberani. Sadarkah kau, bahwa detik ini juga aku bisa meremukkan kepalamu?” Achilles berkata.
Raja Priam, yang tampak demikian renta dan putus asa setelah kematian Hector, memandang Achilles dengan matanya yang bergelimang kepedihan.
“Kau pikir, apakah ada bedanya bagiku kalau kau bunuh aku sekarang, setelah kematian anakku?”
Achilles sejenak terdiam, lalu bertanya. “Apa yang kau inginkan dariku?”
“Ijinkan aku membawa pulang anakku. Ijinkan aku mendoakannya, melaksanakan upacara untuknya, dan memakamkannya dengan layak. Aku mengenal ayahmu dengan baik. Ia sungguh beruntung, meninggal tanpa perlu menderita karena melihat kau tewas di depan matanya. Aku mencintai anakku sejak ia membuka mata pertama kali di dunia, hingga kau membuat ia menutup mata.” Raja Priam berkata dengan lirih, suaranya penuh duka yang mendalam.

Achilles, singa perang Yunani yang tak terkalahkan itu, yang badannya kekar bagai batu karang dan hatinya keras melebihi padas, terpaku mendengar perkataan seorang ayah yang hancur karena kehilangan buah hatinya itu.
“Tunggu sebentar disini.” ia berkata.
Achilles pergi keluar tenda. Dia berlutut di depan mayat Hector yang wajahnya sudah tak berbentuk, penuh luka berdarah bercampur dengan pasir. Achilles menunduk di depan mayat Hector. Manusia perkasa itu menangis tersedu-sedu.

“Kita akan segera bertemu, saudaraku … ” Achilles berbisik sambil menutup wajah Hector dengan kain selimut.
Achilles membungkus mayat Hector, menaikkannya ke atas kereta kuda, dan menyalami Raja Priam sambil berkata,
“Ia lawan terbaik yang pernah kujumpai. Putramu patriot sejati. Aku bangga pernah bertarung dengannya. Ia harus memperoleh upacara pemakaman yang khidmat selama 12 hari. Selama waktu itu, Yunani tidak akan mendekati Troy. Kau seorang raja yang jauh lebih baik dari raja kami.”
Ringkas cerita, pasukan Yunani tak berhasil menembus benteng Troy yang sangat kuat. Untuk mengalahkan Troy, akhirnya mereka menggunakan taktik tipuan. Mereka berpura-pura mundur dari peperangan, kembali ke Yunani. Perahu-perahu mereka disembunyikan di balik sebuah teluk. Di bekas perkemahan, mereka meninggalkan sebuah patung kuda dari kayu yang sangat besar, gagah dan indah.
Raja Priam dan tentara Troy yang menginspeksi ke bekas perkemahan tentara Yunani terheran-heran melihat patung kuda raksasa itu. Paris yang merasa curiga memohon kepada ayahnya untuk membakar patung kuda itu, tetapi para penasehat kerajaan berpendapat bahwa patung kuda itu adalah persembahan dari Raja Agamemnon untuk dewa-dewa mereka. Raja Priam setuju dengan pendapat para penasehatnya, dan memerintahkan untuk membawa patung kuda itu ke dalam benteng kota Troy.
IMG_1363
Patung kuda raksasa yang terbuat dari kayu diarak masuk ke dalam benteng kota Troy

Pada tengah malam, ketika seluruh penduduk kota tidur lelap, sejumlah tentara Yunani pilihan yang diam-diam bersembunyi di dalam patung kuda itu keluar, membuka pintu gerbang benteng, dan memanggil tentara Yunani yang bersembunyi dibalik perbukitan. Tentara dan penduduk kota Troy yang sedang nyenyak tidur tak sempat melawan. Kota Troy dibakar. Istana dihancurkan, dan Raja Priam dibunuh. Paris, yang sudah mengetahui bahwa titik lemah Achilles terdapat pada urat di pergelangan kakinya, berhasil menancapkan anak panah ke urat kaki Achilles hingga singa perang itu kehilangan segenap kekuatannya. Achilles mati dengan beberapa anak panah Paris menancap di dadanya. Nama Achilles hingga kini dipakai di dunia kedokteran sebagai nama sebuah urat yang terdapat pada pergelangan kaki.
Film Troy diproduksi pada tahun 2004 oleh Warner Bros. Achilles (diperankan oleh Brad Pitt) menjadi tokoh sentral dalam film ini. Hector (diperankan oleh Eric Bana) hanya muncul kira-kira di sepertiga awal film, tetapi penampilannya sangat bagus. Demikian juga Peter O’Toole, memerankan Raja Priam dengan sangat mengesankan. Film ini dibuat berdasarkan legenda Perang Troya yang sangat terkenal. Dalam legenda ini, Helen menjadi ‘biang keladi’ peperangan besar yang terjadi antara Yunani dengan Troy (atau Troya). Sebagai bagian dari legenda Perang Troya, kisah “Helen of Troy” pernah difilmkan secara terpisah. Selain Helen, Kuda Troya adalah legenda yang melekat erat dengan kisah epik ini.

Kuda Troya
Kuda Troya, properti film Troy yang sekarang ditempatkan di Canakkale, Turki, di dekat reruntuhan bekas kota tua Troya.

Film yang disutradarai oleh Wolfgang Petersen ini mengambil lokasi di Kepulauan Malta, di Fort Ricasoli. Adapun tampak luar benteng Troy dibangun dan diambil gambarnya di Mexico. Pembuatan Troy menelan biaya 180 juta dollar, menjadikan film ini sebagai film yang paling mahal hingga saat itu. Pemutaran film ini di seluruh dunia menghasilkan uang 497 juta dollar. Untuk membuat tubuh Brad Pitt menjadi tegap berotot, ia dilatih oleh Gregory Joujon Roche di Holistic Fitness Los Angeles. Secara kebetulan, pada saat melakukan shooting film ini, urat (tendon) Achilles di kaki Brad Pitt robek (terkena ‘tulah’ arwah Achilles ‘kali … ).

Kostum film Troy, disimpan di British Museum
Perang Troya adalah perang yang melibatkan cinta Helen dan Paris, ketamakan Raja Agamemnon, serta patriotisme Hector dan Achilles. Kisah yang sesungguhnya juga dijumpai di seluruh penjuru dunia, termasuk di tanah air kita. Legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, legenda Hang Tuah, hanyalah sedikit contoh dari kisah-kisah sejenis di nusantara. Kapankah kita bisa mengangkatnya menjadi film yang spektakuler seperti Troy?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar